09.22.06
Tips Sehat Lahir Batin Saat Ramadhan.
- Tidurlah setelah sholat tarawih
- Bangun pada awal sepertiga malam, minum air putih 2 gelas (400 cc)
- Bagi yang belum witir dapat menambah Qiyamul Lail kemudian witir.
- Sebelum makan sahur, minum setengah gelas minuman dengan PH sedikit asam (sari jeruk, anggur, apel, nanas, yoghurt, dsb)
- Makan sahur dimulai dengan menu daing, ikan, atau telur dilanjutkan dengan nasi, sayur, dan buah. Ditutup dengan secangkir kopi atau teh.
- Subuh – Dhuha. Usahakan jangan tidur setelah sholat subuh. Isikan dengan tadarusan, dan dapat diselingi dengan olahraga, relaksasi seperti jalan santai diseputar rumah atau kebun.
- Dhuha – sekitar jam 10 WIB diisi dengan kegiatan afektif (silaturahmi, mencari data ataupun mengevaluasi diri)
- 10 WIB – Dhuhur diisi dengan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian.
- Sholat Dhuhur lengkap dengan sunnah rawatib
- ba’da Dhuhur – Asar untuk melakukan aktivitas kognitif (pekerjaan yang mengutamakan kecerdasan)
- Asar – Maghrib digunakan untuk kegiatan yang memelrukan kebijaksanaan (menegur anak, memperingatkan staf dikantor atau saling menasehati)
- Pada saat berbuka, awalilah dengan sedikit makanan manis, diikuti dengan air putih lalu sholat maghrib.
- Usai sholat makan malam dengan mendahulukan daging, ikan, telur, tahu, tempe, baru nasi, sayur, dan buah. Tutup dengan secangkir teh.
sumber : Majalah MQ th 2005
09.14.06
MEnjaga Lisan
setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (bukan memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf nahi mungkar ( memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran) dan Dzikrullah Azza wa Jalla (mengingat Allah Azza wa Jalla). (HR Tirmidzi)
Mengapakah pada saat-saat beribadah kepada Allah, kita sering tidak merasakan kekhusyukan, apalagi sampai dapat menitikkan air mata, sehingga hampir tidak pernah terasakan lagi lezat dan nikmatnya menghadap Allah?
Ternyata semua itu berpangkal dari hati yang kesat dan kotor. Di dalam hati yang demikian memang tak akan pernah bersemayam nuur (cahaya) iman yang sesungguhnya.
Akibat lain dari memiliki hati yang busuk, kusam, kusut, dan kotor adalah tidak akan pernah mampu kita melahirkan kalimat-kalimat lisan yang benar dan bermutu. Tiap-tiap kalimat yang keluar dari lisan, kata Syeikh Ibnu Atha’illah, pastilah membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Betapa tidak? Hati itu bisa diibaratkan dengan teko. Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila ia berisi air kopi, maka yang keluarpun pastilah air kopi. Demikian pula jika isinya air bening, maka yang keluar pun pstilah air bening,
Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata kasar, menyakitkan, jorok, dan sia-sia, semua itu, tidak bisa tidak, bersumber dari hati yang tidak beres. Seseorang yang hatinya tidak selamat akan sangat sulit mengendalikan lisannya. Apa saja yang terlihat di depan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar, terlepas dari komentarnya itu bermutu atau tidak, bermanfaat bagi dirinya atau tidak, ada yang mendengarkan atau tidak. Jelas, tak akan pernah disadari bahwa perkataaanya mungkin bisa sisa-sia.
Bahakan tidak jarang pada akhirnya sang lisan jadi tergelincir ke dalam perbuatan ghibah karena hanya gemar menyelisik kekurangan dan air orang lain. Bilapun perkataannya didengar oleh orang yang dinilainya, maka jadilah ia perkataan yang menganiaya dan menyakiti perasaannya. Bahkan tidak jarang pula lebih meningkat lagi daripada itu, yakni fitnah! Padahal, sungguh pandangan manusia itu amat terbatas untuk menilai kebaikan atau keburukan seseorang.
Perkataan yang kurang bermutu dan hampa maknsa bisa juga keluar dari lisan seseorang yang didasari oleh hati yang tidak ikhlas. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Adalah ia seroang sahabat, guru, atasan, bahkan mubaligh atau orang tua sekalipun. Mengapa ada seorang anak yang habis-habisan dinasihati oleh orang tua atau gurunya, tetapi tetap saja berkelakuan buruk? Jawabnya, mungkin karena mereka tidak menasihatinya dengan hati yang benar-benar tulus semata-mata ingin membimbing sang anak ke jalan yang benar. Mungkin nasihat itu keluar dari lisannya seraya hatinya penuh diselimuti nafsu amarah.
Mengapa pula seorang mubaligh telah habis-habisan berceramah menyampaikan kebenaran, tetapi toh tak membekas sama sekali di hati para jamaahnya? “kemungkinan yang demikian itu dari engku sendiri,” kata Muhammad bin Wasi’, seorang ulama ahli ma’rifat. Sebab, kata Wasi’, bila nasihat itu keluar dai hati yang ikhlas, pastilah masuk ke dalam hati. Sebaliknya nasihat yang hanya berupa gubahan lidah dan reka-rekaan belaka, ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Sebagus apa pun kata-kata yang terucap, bila keluar dari hati yang riya, sum’ah (sekedar mencari popularitas), ujub, atau takabur, maka ia taka akan pernah mampu menghunjam ke dalam lubuh hati pendengarnya.
Lidah memang tak bertulang. Mengeluarkan kata-kata yang bagimanapun dari lisan sungguh termat mudahnya. Akan tetapi, apa dampaknya dan bagaimana akibatnya, itulah yang sering tidak terpikirkan. Sepatah kata yang terucap sama sekali tidak akan membuat tubuh seseorang terluka, namun siapa yang tahu kalau justru hatinya yang tersayat-sayat. Atau sebaliknya, sepatah kata yang terucap, justru malah menjadi penyebab si pengucapnya mendapat celaka ataupun selamat, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak. Rasulullah saw bersabda, “setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (bukan memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf nahi munkar dan Dzikrullah ‘Azza wa Jalla!” (HR Trimidzi)
Karenanya, jangan heran kalau hanya disebabkan sepatah dua patah kata saja yang terlontar dari mulut bisa terjadi perkelahian, dua orang saudara bisa bermusuhan, bahkan membuat seseorang mendekam di balik terali besi. Sebaliknya, tidak perlu heran pula bila berkat satu dua patah kata seseorang bisa selamat dari malapetaka yang akan menimpanya.
Apalagi balasan yang akan menimpa kita di akhirat kelak sebagai akibat terpelihara atau tidaknya lisan. “Barang siapa yang memelihara apa yang ada di antara janggutnya (yakni lisannya) dan apa yang ada di antara kedua pahanya (yakni farjinya) karena aku, “ sabda Rosulullah, “niscaya akan kujamin dia masuk surga” (HR Bukhari). Sesungguhnyalah, “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, yaitu mulut dan farji” (HR Tirmidzi).
Dengan demikian, hendaknya kita selalu berhati-hati dengan lisan. Setiap kata yang hendak diucapkan hendaknya terlebih dahulu dipikirkan masak-masak. Sekiranya kata-kata yang akan terucapkan itu tidak ada manfaatnya, sebaiknya kita memilih diam. Rosulullah saw bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim)
Lidah, tanda tenaga dan tanpa biaya bisa kita gerakkan setiap saat. Barang siapa di antara kita terlampau banyak bicara, akan sangat cepat mengeraskan hati. Orang yang paling beruntung di dunia ini adalah “fal yaqul khairan au liyashmut” – orang yang sangat bisa memperhitungkan setiap kata-kataya. Barang siapa yang berpiirnya lebih banyk daripada bicaranya, insyaAllah, kata-katanya akan membersihkan hati.
Hati yang selamat, Subbanallah, siapapun pasti merindukannya. Hati yang selamat tidak ahanya akan menyelamatkannya di dunia, tetapi juga di yaumil hisab nanti. Yakni, “Yauma laa yanfa’u maalun walaa banuun, illaa man atallaaha bi qalbin saliim” (QS Asy Syu’ara [26] : 88-89). Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali hati yang selamat!
Dari Buku Bening Hati KH Abdullah Gymnastiar oleh Basyar Isya
cinta selain ALlah dan Rosul Nya
“kamu tak akan pernah tenang selama dalam hatimu masih ada cinta selain Allah dan Rosul Nya”
pesan singkat tapi sangat mendalam, lantas ku terdiam serasa tubuh ini tak mampu untuk bergerak, kepalaku tertunduk, air mataku yg tanpa sadar tak bisa terbendung hingga sebuah layar besar terpampang jelas didepan mataku menceritakan perjalanan hidupku selama ini.
Astaghfirullah…ternyata apa yang selama ini aku lakukan tak kurang hanya sebuah kesia-siaan, tak manfaat, justru menjurus dalam kenistaan. begitu banyak dosaku hingga mampu menggelapkan hatiku, dan mungkin karena itu Allah enggan untuk memberikan aku ketenangan hati. selama ini yang terpikir hanya cinta kepada manusia saja, MasyaAllah….hinanya diriku, kotornya hatiku, bisakah ku dapatkan kembali hidayah Nya, kepercayaan Nya, rahmad Nya, dan yang terpenting cinta Nya. Allahu’alam….smoga ini awal untuk aku bisa berdiri dengan pengharapan ridho ALlah ditiap langkahku berjalan…insyaAllah.
pernahkan terpikir dalam benak kita apakah Qta benar-benar mencintai ALlah dan Rosul Nya, sering hanya sebuah lisan yang tak tertanam dalam hati sehingga seakan ibadah yang Qta lakukan hanya sia-sia, sebuah gerakan yang tanpa makna, hatipun tak sedikitpun terpaut dalam rahmad Nya, karena Qta sering lakukan ibadah bkn karena ALlah.
pernahkan Qta berdzikir atopun bersholawat untuk mengingat Allah dan Rosul Nya walaupun hanya sejenak dimana kita hidup 24 jam bisakan hanya sepertiganya Qta melakukanya?
cobalah untuk mengenal ALlah dan Rosul Nya, insyaAllah kau akan dapat ketenangan dan cinta Nya?
dan kenali dirimu apa kau masih mengharapkan cinta lain selain Allah dan Rosul Nya? krn yakinlah itu akan membuatmu semakin jauh dari Nya